Kembang Tahu oh Kembang Tahu
Sabtu pagi selalu merupakan hari yang dinanti kami
berdua, sahabat di tempat kerja. Buat berjalan-jalan melepaskan penat, setelah
Senin-Jumat berjibaku di tempat kerja. Sabtu 6 tahun lalu, adalah saat-saat
kami sedang hobi mencari rumah buat tinggal. Selama ini kami baru kost dan
kontrak rumah. Setelah 5 tahun kerja sepertinya saat yang tepat buat beli rumah.
Dimana kontrak ataupun kost tiap bulan harganya makin naik dan sama dengan
biaya cicilan rumah.
Di satu Sabtu yang cerah setelah sarapan mie bangka di
tempat langganan di Gading Serpong, kami memutuskan untuk melihat-lihat rumah
di sekitar restaurant mie bangka. Hari sudah menunjukkan pukul 11 an di saat
itu, cahaya matahari mendekati terik namun tetap bersahabat untuk dinikmati.
Dengan naik mobil Xenia menyusuri jalan, melihat kiri kanan mana perumahan yang
akan kami datangin.
Di satu sektor, kami melihat perumahan yang teduh,
dengan pohon-pohon besar menaungin kiri kanan jalan tampak asri dan damai. “Yuk
masuk yuk ke sana,” ajakku ke sahabatku yang menyetir mobil. Dia bilang “Eh
yakin itu kan perumahan elit kaga kebeli lah ma kita.” . “Ayolah masuk saja
kita, kan liat-liat sapa tahu ada yang cocok ,paling tidak menikmati rumah
cantik,” jawabku dengan bersemangat. “Ok,ok, paling tidak mata bisa cerah
melihat rumah cantik,”katanya. Kami berdua pecinta alam dan suka melihat
keteduhan pohon-pohon yang berjajar di sepanjang jalan menuju perumahan itu.
Masuklah kami ke sana setelah melewati pos sekuriti di depan gerbang. Pelan kami berputar mengelilingi komplek perumahan tersebut. Mata melihat kiri kanan melihat rumah-rumah cantik dengan kebun-kebunnya, yang ditanami aneka bunga-bungaan memanjakan mata kami.
Tetiba ada terdengar “Kembang tahuuuuuu, kembang tahuuuu,” dan ada bunyi ‘ teng, teng, teng” bunyi sendok yang diketukkan ke piring atau gelas kaleng. Tara kami berdua hobi jajan langsung saling berpandangan. Tersenyum dan langsung bilang “ yuks kita coba,” secara bersamaan.
Tak berapa lama terlihat ada bapak tua penjual, dengan pikulan kelihatan dari ujung jalan. Kami langsung memanggil dan berhenti di tepi jalan. Turun dari mobil dan mendekati bapak penjual yang sudah berhenti, di samping jalan. Posisi berhenti di samping gerumbulan pohon bambu yang rapi dan rapat sekali tapi kelihatan teduh.
Letaknya ada di paling ujung di perumahan tersebut, dimana sisi tersebut teduh dinaungin deretan pohon bambu yang rapi, memagari perumahan tersebut dari jalan di sebelahnya. Kami pesan 2 mangkuk kembang tahu. “Berapa satu mangkuk kembang tahunya Pak?” kataku . “ 5 ribu rupiah Non,” jawab bapak penjual kembang tahu. Kami melihat bagaimana bapak penjual, memotong kembang tahu di tempatnya dan memasukkan ke mangkok. Kemudian menuangkan cairan wedang jahe yang diambil dari tempat terpisah dan digabungkan di mangkok itu. Cantik sekali perpaduan kembang tahu dengan cairan jahe yang coklat keemasan ditimpa cahaya matahari.
Siang itu kira-kira pukul 12 tepat
pada saat kami menikmati semangkuk wedang kembang tahu. Sambil berdiri
menikmati kesejukan angin mengalir di siang hari di bawah pohon bamboo,
mengobrol ringan dengan bapak penjual.
Setelah habis dan membayar 10 ribu rupiah ke bapak penjual, kami masuk kembali ke dalam mobil. Dan sambil mendengarkan musik di radio bersenandung mengikuti lagu. Mata melihat kiri-kanan melihat rumah-rumah cantik.
Ada sekitar 4 ruas jalan
mengelilingi komplek perumahan itu, sebelum kami balik lagi ke ujung lokasi
yang rindang dengan pagar bambu tadi. Bapak penjual kembang tahu tidak terlihat
dan tidak terdengar lagi suara menjajakan kembang tahu. Mmmmm aku bilang ke temanku
“ Bapak penjual tadi kemana ya? Kayanya mau beli kembang tahu buat di rumah
deh,” Kata temanku “ Benar banget bisa buat nanti malam ya, pasti enak
hangat-hangat atau malah dingin juga asyik ya.”
Waktu itu kira-kira baru sekitar 15 menitan setelah kami minum. Kami naik mobil sementara bapak penjual kembang tahu tadi jalan kaki dengan memikul dagangan. Kami memutari lagi perumahan tadi, anehnya bapak penjual tidak kami ketemukan. Seolah-olah bapak penjual menghilang ditelan pagar bambu yang rimbun. Jalan masuk dan keluar ke perumahan tersebut hanya 1 di depan dan dijaga security.
Setelah 2x menyusuri dan tidak bertemu dengan bapak penjual kembang tahu, kami
menyerah dan berjalan menuju pintu gerbang. Iseng aku bertanya ke pak security
,”Pak, apa penjual kembang tahu sudah keluar ya ?” Bapak security melihat
wajahku dengan heran sembari bilang,”Di sini kan penjual makanan tidak boleh
masuk komplek ini Mbak.”
Aku dan temanku saling berpandangan dalam diam dan
berkata berbarengan “Ayo kita pulang.”
Ceritanya seram ya.
ReplyDeleteMau kasih masukan boleh ya mbak, beberapa kalimat seperti lupa diberi titik koma jadi melelahkan saat membaca.
Lalu paragraf terlalu berdekatan.
Terima kasih.
Terima kasih Mba Utari. Segera diperbaiki
ReplyDeleteHoror juga .. tapi seru kakak 😂
ReplyDeletehehehe thanks komennya, baru belajar
DeleteWah apa rasanya kembang tahu horror, ka? Seru. Bisa jugakan nulis fiksi. Jia you!
ReplyDeleteseru juga ceritanya.
ReplyDeleteSerem..
ReplyDelete